Jawab Tantangan Zaman, IA-ITB Resmikan Ikatan Alumni Termuda

Jawab Tantangan Zaman, IA-ITB Resmikan Ikatan Alumni Termuda. Peresmian yang berlangsung di GSG Labtek 1 Kampus ITB Ganesha ini turut dihadiri Ketua Program Studi S1 TPSDA ITB Dhemi Harlan, Senat Akademik ITB Indratmo Sekarno, para alumni, dosen, serta perwakilan mahasiswa dari program studi S1 TPSDA ITB.

Acara tersebut sekaligus melantik Novaldy Agnial Fikri, (Teknik dan Pengelolaan Sumber Daya Air 2013) dan kawan-kawan sebagai Ketua dan Pengurus Ikatan Alumni termuda yang dimiliki ITB saat ini.

Angkatan pertama program studi ini pun memberanikan diri menjawab tantangan dengan segera membentuk Ikatan Alumni begitu mereka lulus dari kampus. Kepengurusan pertama IA TPSDA ITB periode 2018 – 2021 terbentuk dengan jumlah pengurus 6 orang. Mereka siap mengoordinir 31 alumni TPSDA ITB yang telah tercetak untuk bersama-sama meningkatkan kualitas agar dapat menyelesaikan satu demi satu permasalahan keairan di Indonesia.

“Pekerjaan tentang keairan tidak akan pernah habis. Maka dari itu kita harus memiliki daya saing yang tinggi,” ungkap Novaldy penuh optimisme.

Program Studi TPSDA ITB sendiri juga terus melakukan perbaikan. Di antaranya dengan menciptakan kurikulum yang baik, menyediakan tenaga pengajar yang andal serta fasilitas laboratorium yang lengkap agar dapat mencetak Sarjana Teknik Air yang unggul sesuai kebutuhan zaman.

Hal ini diperkuat oleh pernyataan Senat Akademik ITB sekaligus inisiator program studi TPSDA ITB, Indratmo Soekarno. Dalam sambutannya, dia menyatakan, lulusan program studi ini banyak dicari dan cepat terserap di berbagai sektor usaha.

“Negara ini masih sangat membutuhkan insinyur tenaga air. (Di antaranya) untuk pertanian, perkebunan, kehutanan, dan energi. Tantangan akan banjir juga semakin besar, (di samping) abrasi pada pantai, sedimentasi muara, hingga persoalan rawa-rawa,” tutur Indratmo.

Dia juga mencontohkan beberapa persoalan riil yang terjadi hari ini seperti permasalahan Giant Seawood, kekurangan air baku di Jakarta, hingga banjir di sungai-sungai besar seperti Citarum, Bengawan Solo, dan Ciliwung.

“Kita memiliki berbagai persoalan di mana kita harus menanganinya dengan pembuatan waduk. (Maka dari itu) profesi bidang air (ini) adalah profesi yang sangat menantang,” tutup Indratmo.

Dia berharap para alumni mampu memajukan bidang keprofesian sumber daya air dan ikut berkontribusi dalam pembangunan fasilitas keairan di seluruh Indonesia. (RMI/AK)

sumber foto : itb

Please follow and like us:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *