Menikmati Sensasi Menjadi Penumpang Bus Kayu

Menikmati Sensasi Menjadi Penumpang Bus Kayu. Jika di daerah lain truk kayu adalah kendaraan yang biasa dipakai untuk mengangkut pasir, barang-barang, hewan dan lain-lain, maka di Flores, NTT, berbeda. Truk kayu justru dijadikan angkutan umum. Masyarakat Flores biasa menyebutnya Oto Kayu atau Bus Kayu. Kendaraan ini digunakan untuk mengangkut penumpang antarkota dan kabupaten.

Bagi saya, ini merupakan angkutan umum yang unik dan menarik. Pasalnya, kendaraan seperti ini tidak lazim digunakan untuk mengangkut manusia. Namun bagi masyarakat Flores, ini merupakan hal yang biasa saja.

Bus kayu yang asal-usulnya dari truk kayu ini dimodifikasi sedemikian rupa: diberi atap agar penumpang tidak kepanasan atau kehujanan. Bangkunya terbuat dari papan setebal 10 cm, sehingga penumpang tidak takut patah. Barisan bangku menghadap ke depan. Tiap baris cukup untuk lima penumpang. Rata-rata bus kayu memiliki bangku baris sebanyak 6-7 buah. Total, bus ini bisa mengangkut 30-40 penumpang, bahkan bisa melebihi muatan yang seharusnya.

Pertama kali saya menginjakkan kaki di Flores, khususnya kota Ende, pemandangan pertama yang menyita perhatian adalah penampakan bus kayu ini. Bus ini melintas setiap hari di depan mes Kartika Kodim 1602 Ende, tempat saya menginap. Setiap hari saya memerhatikan bus kayu tersebut lewat.

Sempat berfikir kapan saya bisa naik bus kayu ini, karena untuk naik bus kayu, kita harus melakukan perjalanan lintas kabupaten. Sementara saya mau ke mana? Saya tidak tahu jalan karena saya orang baru d isini dan tidak tahu apa-apa.

Beberapa hari kemudian, tanpa diduga, saya mendapat tugas melakukan penelitian ke sebuah tempat yang jarak tempuhnya lumayan jauh, yaitu Kabupaten Larantuka. Saat itu saya sedang berada di Desa Maubasa, Kabupaten Ende, yang terletak jauh dari kota alias termasuk desa pelosok yang tertinggal. Ini pertama kalinya saya melakukan perjalanan lintas kabupaten.

Dengan penuh semangat, saya segera merasakan nikmatnya sensasi berada di dalamnya. Saya mencari posisi yang paling enak untuk duduk. Kebetulan saya paling senang duduk dekat jendela. Tidak perlu berebut, lkarena bus kayu ini sepi penumpang.

Saking senangnya, saya sampai berteriak dan bersorak gembira. Selama perjalanan, ada kejadian-kejadian lucu yang saya rasakan. Diawali dengan jalan yang berbatu, kemudian goyangan bus kayu dan kenyaman duduk yang terganggu.

Saya mulai sibuk menahan sakit akibat terpental-pental oleh gundukan batu yang digilas roda bus kayu. Guncangan bus kayu sangat terasa dipunggung dan pinggul. Untuk menahan agar pinggul dan punggung tidak kesakitan, saya berusaha dalam posisi siaga. Berpegangan sekuat-kuatnya atau duduk dalam posisi setengah berdiri jika ada lonjakan-lonjakan.

Jalan beraspal akhirnya kami temui. Saya mulai menikmati kibasan angin yang menyapu wajah dengan kencang. Segar bukan main. Tetapi kalau terlalu lama kena angin bebas ini, saya pun bisa masuk angin. Para penumpang lain mulai tertidur. Jangan berharap bisa tidur lelap seperti di bus-bus yang biasa kita tumpangi. Bus kayu ini jelas beda dengan bus biasa.

Jalan mulai berbelok-belok dan terus berkelok-kelok tanpa selesai. Ke kiri, ke kiri dan ke kiri lagi lalu ke kanan, ke kanan dan ke kanan lagi. Seperti lagu “Nona Manise” yang sering dinyanyikan orang-orang Flores.

Saat berkelok-kelok itulah para penumpang mulai heboh. Sebab pada saat belok ke kanan, bagi yang duduknya tidak rapat maka pinggul akan bergeser ke kanan hingga ke pojok, begitu pula sebaliknya. Jika bus kayu belok ke kiri makan pinggul akan ikut ke kiri sampai ujung. Maklum, papan bangku yang kami duduki sudah licin sekali. Entah sudah berapa orang yang mendudukinya.

Saya kebetulan duduk sendirian. Seperti setrika, mondar-mandir pada saat bus kayu tersebut berbelok. Tawa para penumpang pun pecah melihat kejadian itu. Bahkan motor-motor yang berjalan di belakang bus kayu ikut-ikutan menertawakan saya.

Semua sibuk mencari cara agar bisa nyaman duduk pada saat bus kayu tersebut belok. Saya juga ikut cari akal agar tubuh bisa dikunci dan tidak lari ke sana ke mari. Kain yang biasa saya ikatkan di kepala dikorbankan untuk mengikat pinggang di tepi bus kayu. Ditambah tali tas kamera agar lebih kuat. Dengan begitu, akhirnya saya bisa duduk dengan aman dan nyaman.

Ada keasyikan tersendiri menjadi penumpang bus kayu ini. Kejadiaan yang saya alami selama 9 jam perjalanan menjadi hal yang tidak terlupakan. Penumpang yang tidak biasa melakukan perjalanan berkelok-kelok pasti akan mabuk, tetapi dengan bus kayu justru tidak merasakan mual ataupun pusing. Kantong plastik yang saya siapkan benar-benar tidak terpakai.

Pemandangan indah pulau Flores dapat kami nikmati dengan puas. Mulai tebing-tebing tinggi yang curam, hutan-hutan luas, kebun-kebun kakao yang siap panen, dan hamparan laut yang indah, semua cukup membahagiakan perjalanan saya.

Hal yang kami takutkan adalah pada saat kami melintas di hutan malam hari. Bagaimana jika ada binatang hutan yang jahat dan menghadang kami di jalan, lalu memangsa para penumpang? Ke mana penumpang akan berlindung, sementara binatang-binatang tersebut dengan bebas masuk tanpa ada jendela kaca. Kejadian seperti ini sungguh tidak terbayangkan.

Untunglah saya tidak sedang melintasi jalan Sumatera yang masih banyak binatang buas seperti harimau, gajah ataupun kera. Saya sadar bahwa saya tengah berada di Flores yang tidak ada hewan buasnya. Yang ada hanya kera, anjing, babi, kuda dan reruntuhan batu di tebing yang dilewati.

Remuk badan setelah sampai di tempat tujuan. Sembilan jam perjalanan dengan bus kayu cukup melelahkan. Saya sulit untuk meluruskan punggung dan kaki. Pelan-pelan mulai menggeliatkan tubuh untuk meregangkan sendi-sendi yang meringkel. Bukannya kapok naik bus kayu, saya malah ketagihan. Bus kayu memang angkutan terbaik di Flores. Sensasi yang didapat sangat melekat di ingatan. Saya kembali ke Ende juga menggunakan bus kayu, begitu pula perjalanan jauh lainnya.

“Su pasti pilih bus kayu to,” teriak saya mengekspresikan logat orang Flores. (LCL/AK)

Please follow and like us:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *