7 KESENIAN TRADISIONAL SUNDA (BAGIAN 2)

5. KUDA RENGGONG

 

https://presidentpost.id

Merupakan pertunjukan rakyat yang berasal dari Sumedang. Kesenian ini mulai muncul pada tahun 1910, yang menampilkan atraksi kuda yang telah dilatih untuk suatu pertunjukan. Kuda yang telah dilatih akan menari mengikuti irama musik yang dilantunkan terutama kendang. Nama Kuda Renggong diambil dari kata ronggeng yang dalam bahasa sunda berarti “Keterampilan”, sehingga kuda renggong dapat diartikan sebagai “Keterampilan berkuda”. Kesenian ini biasanya dipentaskan dalam arak-arakan khitanan.

Asal-usul kuda renggong ini dari pangeran Aria Suriatmaja, yang memerintah Kabupaten Sumedang selama 37 tahun (1882-1919). Pada saat itu ia sedang berusaha untuk memajukan bidang peternakan. Beliau sengaja mendatangkan bibit-bibit kuda unggul dari Pulau Sumba dan Sumbawa. Selain digunakan untuk alat transportasi, kuda juga sering di fungsikan sebagai pacuan kuda dan alat hiburan.

Sekitar tahun 1880-an, seorang anak laki-laki bernama Sipan yang tinggal di Dusun Cikurubuk, Kecamatan Buah Dua, Sumedang, mempunyai kebiasaan mengamati tingkah laku kuda miliknya. Dari pengamatannya kuda itu dapat dilatih untuk mengikuti gerakan-gerakan yang diinginkan oleh manusia. Cara yang digunakan untuk melatih kuda agar mau melakukan gerakan tersebut adalah dengan cara memegang tali kendali kuda dan mencambuknya dari belakang agar kuda itu mengikuti irama musik yang didengarnya. Latihan dilakukan sangat rutin sehingga kuda menjadi terbiasa dan setiap mendengar musik pengiring, ia akan menari dengan sendirinya.

Melihat keberhasilan Sipan dalam melatih kuda miliknya membuat Pangeran Aria Surya Atmadja tertarik dan memerintahkan untuk melatih kudanya yang didatangkan langsung dari Pulau Sumbawa. Dari melatih kuda milik Pangeran Aria Surya Atmadja inilah akhirnya Sipan dikenal sebagai pencipta Kesenain Kuda Renggong.

 

6. TARAWANGSA (JENTRENG TARAWANGSA)

https://mipitamit.wordpress.com

Merupakan salah satu jenis kesenian rakyat yang ada di Jawa Barat. istilah “Tarawangsa” memiliki arti sebagai alat musik gesek yang memiliki dua dawai yang terbuat dari kawat baja atau besi.

Awal mula Tarawangsa bermula pada saat Rancakalong berada dibawah pemerintahan Mataram. Saat itu desa tersebut ditimpa malapetaka, yakni hilangnya butiran padi (Dewi Sri) dari dalam kulitnya. Semua padi yang ditanam tidak menghasilkan bulir padi atau tidak berbiji/hapa (dalam istilah Sunda). Kejadian tersebut diyakini masyarakat terjadi karena mereka sudah melupakan tata tertib memuliakan padi (Dewi Sri). Sehingga akhirnya terjadi kelaparan serta datang berbagai penyakit yang diderita masyarakat.

Embah Jatikusumah menyaksikan masyarakat menderita kelaparan, bahkan tak sedikit yang meninggal dunia. Beliau dan beberapa tokoh dari masyarakat lalu memutuskan untuk mencari bibit padi ke Mataram. Karena dikabarkan bahwasanya di Mataram banyak bibit padi. Sesampainya di Mataram, mereka mendapat kendala karena bibit padi dijaga ketat dan tidak boleh dibawa keluar dari Kerajaan Mataram dan selalu diincar oleh begal (perampok). Maka untuk membawa bibit padi itu Embah Jatikusumah menciptakan dua buah alat musik yang mempunyai fungsi sebagai alat untuk membawa benih padi. Caranya dengan memasukannya kedalam lubang resonator yang terdapat pada bagian belakang alat musik tersebut. Alat musik tersebut diberi nama Jentreng dan Tarawangsa (Ngek-Ngek).

Dan siapa sangka, ternyata Embah Jatikusumah berhasil membawa bibit padi keluar dari Kerajaan Mataram. Mulai saat itulah kesenian tarawangsa hidup dan berkembang di Rancakalong. Pada awalnya, kesenian tersebut hanyalah bersifat instrumental namun kemudian masyarakat Rancakalong menjadikan kesenian itu sebagai kehormatan kepada Dewi Sri. Sehingga tidak hanya unsur instrument saja, tetapi juga ada unsur upacara dan unsur tari. Kesenian ini dipergelarkan di saung (rumah kecil untuk istirahat di sawah) sebagai upacara kehormatan pada Dewi Sri.

 

7. LENGSER

http://upacaraadatsundacimahi.blogspot.com

Menurut keterangan para pendiri tokoh Lengser di Kampung Parugpug yaitu Bapak Kalsip, Lengser diciptakan pada tahun 1935. Lengser merupakan salah satu kesenian Sunda yang masih lestari hingga saat ini dan memiliki fungsi sebagai upacara mapag pengantin (sambutan pengantin). Kesenian ini tidak hanya ada dalam pesta pernikahan saja, namun juga bisa ditampilkan dalam menyambut kedatangan para pejabat atau tamu negara.

Ki Lengser memiliki ciri khas khusus yaitu baju kampret yang berwarna hitam serta di dandani menjadi sosok manusia yang sudah sangat tua, biasanya dia akan ditemani oleh seseorang yang berperan sebagai “Ambu” istri Ki Lengser. Mereka pun akan menari dengan tarian Sunda yang dibawakan dengan jenaka, sehingga akan mengundang tawa para penonton. (CS/PHP)

 

Kembali ke << 7 KESENIAN TRADISIONAL SUNDA (BAGIAN 1)

Please follow and like us:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *